Ada sesuatu yang aneh dalam partai Demokrat, kebijakannya menunggu
pendaftar di KPU sebagai capres adalah menyimpan sesuatu perhitungan
akan kekuatan partai ini untuk menyaingi tokoh yang sudah dulu
mendeklarasikan seperi Joko Widodo (PDIP), Aburizal Bakrie (P Golkar) ,
dan Prabowo Subianto (P Garindra).
Hingga deadline batas waktu dibukanya pendaftaran , dan fenomena menunjukan pada dua kubu persaingan , Demokrat semakin ‘bingung menentukan pilihannya yang akhirnya bergabung di kubu capres Prabowo. Namun demikian tampak diperlihatkan pada SBY yang dalam kapasitasnya yang mengganggu dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina P Demokrat yakni ia masih menjabat sebagai presiden. Karenanya SBY lebih memilih pada posisi netral.
Perhitungan dalam menunggu perkembangan siapa yang positif sebagai capres itu adalah perhitungan kekuatan calon pemilih di lapangan dimana tokoh seperti Jokowidodo perlu mendapat lawan yang kuat lagi dalam pilpres. Itulah sebabnya karena Prabowo Subianto berhasil meyakinkan lima partai dan bergabung dalam koalisinya, maka tak ada harapn lain bagi Demokrat untuk mau tidak mau bergabung dengan koalisi Merah Putih-nya Prabowo, sebab jika tidak, maka diatas kertas capres Joko Widodo yang kian populair itu sulit disaingi.
Bahkan ketika muncul isu poros tengah atau ketika golkar mengajak bergabung dengan Demokrat tetap Demokrat berdiam diri. Hal demikian karena partai ini telah memperhitungkan masak bahwa untuk melawan tokoh fenomental seperti Jokowi perlu penggabungan partaiang besar. Jika capres ada tiga maka justru lebih menguntungkan Jokowi.
Dengan banyak bergabungnya partai di koalisi Marah Putih untuk memenangkan Prabowo subianto-Hatta Rajasa maka Demokrat pun turut bergabung malu-malu.
Tentu saja ini bisa jadi mengecewakan masa Demokrat apalagi melihat sikap SBY yang seperti mendua diantara Prabowo dan jokowi, namun kita semua maklum adanya karena seorang presiden.
Hingga deadline batas waktu dibukanya pendaftaran , dan fenomena menunjukan pada dua kubu persaingan , Demokrat semakin ‘bingung menentukan pilihannya yang akhirnya bergabung di kubu capres Prabowo. Namun demikian tampak diperlihatkan pada SBY yang dalam kapasitasnya yang mengganggu dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina P Demokrat yakni ia masih menjabat sebagai presiden. Karenanya SBY lebih memilih pada posisi netral.
Perhitungan dalam menunggu perkembangan siapa yang positif sebagai capres itu adalah perhitungan kekuatan calon pemilih di lapangan dimana tokoh seperti Jokowidodo perlu mendapat lawan yang kuat lagi dalam pilpres. Itulah sebabnya karena Prabowo Subianto berhasil meyakinkan lima partai dan bergabung dalam koalisinya, maka tak ada harapn lain bagi Demokrat untuk mau tidak mau bergabung dengan koalisi Merah Putih-nya Prabowo, sebab jika tidak, maka diatas kertas capres Joko Widodo yang kian populair itu sulit disaingi.
Bahkan ketika muncul isu poros tengah atau ketika golkar mengajak bergabung dengan Demokrat tetap Demokrat berdiam diri. Hal demikian karena partai ini telah memperhitungkan masak bahwa untuk melawan tokoh fenomental seperti Jokowi perlu penggabungan partaiang besar. Jika capres ada tiga maka justru lebih menguntungkan Jokowi.
Dengan banyak bergabungnya partai di koalisi Marah Putih untuk memenangkan Prabowo subianto-Hatta Rajasa maka Demokrat pun turut bergabung malu-malu.
Tentu saja ini bisa jadi mengecewakan masa Demokrat apalagi melihat sikap SBY yang seperti mendua diantara Prabowo dan jokowi, namun kita semua maklum adanya karena seorang presiden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar