Sabtu, 31 Januari 2015

Yang Terlewatkan Oleh Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden


1.Pendadaran
Yakni tahapan pendidikan khusus pemimpin (untuk Presiden/Wakil Presiden) yang dilakukan oleh maha guru (bisa dilakukan oleh guru bangsa di masa kini)
2. Slametan Matur Tangga Kiwe Tengen
Permisi dengan tetangga kanan kiri di rumahnya dengan upacara slametan dengan mengundang tetangga kiri kanan rumah depan belakang untuk mencicipi hidangan alakadarnya sebagai tanda pamit untuk berlaga.
3. Slametan Sega Ponggol
Yaitu slametan gelar pasukan untuk membekali prajurit yang hendak berperang (berlaga dalam kampanye)
4. Matur Tiwas
Permisi kepada rekan sepadan ilmunya atau lebih tinggi ilmunya atau sepadan derajatnya atau lebih tinggi derajatnya dengan mengunjungi ke rumah mkasing-masing.
5. Slametan Gelar Perang
Slametan umum bersama tim sukses (seluruh pasukan) agar mereka kompak dalam komando serta berjuang untuk pemenangan sungguh-sungguh.
6. Slametan bersih dari duri atau musuh dalam selimut. Bersih-bersih di rumah dengan bubur abang dan bubur putih.
rg, RgBagus Warsono

Tentang “Matahari di balik punggung calon Raja/Presiden

Politik

0Share


Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah ulama besar Indonesia saat itu di Jawa Timur, disamping seorang kiyai juga seorang guru silat olahkanuragan. Ia melihat 2 matahari diantara Kusno (Soekarno) dan Kartosuwiryo. Tak mungkin kedua matahari memimpin Nusantara ini. Sebagai orang tuayang bijak tidaklah baik untuk menghendaki keduanya bersiteru saling membunuh. Jadialah kelak dua orang seperguruan ini menjadi raja. Meski Karto Suwiryo berada dihutan-hutan, Bungkarno yang presiden RI ini tetap mengakuinya sebagai saudara dan “Raja” Indonesia dalam hutan.
Kisah tentang “matahari bersinar” juga dilihat oleh Sunan Kudus terhadap prajurit tamtama bernama Maskarebet, kenapa tidak pada putra mahkota? Atau kerabat / saudara Sultan lainnya? Inilah Indonesia sejak Daha, Kediri, Singosari, Majapahit memberikan gambaran bahwa Waris itu belum tentu Pewaris tahta. Akhirnya lambang-lambang negara Demak pun jatuh ke tangan Maskarebet anak kampung yang terkenal dengan sebutan Joko Tingkir dengan mendirikan kerajaan Pajang sebagai menerus tahta Demak.
Begitu juga Sultan Hadiwijaya ( Maskarebet/Joko Tingkir) selanjutnya , entah mengapa ’sinar matahari ‘ justru bersinar di punggung anak angkatnya, Sutawijaya. Sedang putra mahkota Pangeran Benawa tampak suram tanda-tandanya. Jadilah penerus tahta Pajang itu ke Mataram kepada Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Alogo. Sekali lagi waris belum tentu pewaris. Dan ini Indonesia bukan kerajaan Inggris atau Belanda .
Bukti-bukti sejarah semua serba mungkin, bayangkan anak tukang kayu di pinggir hutan aja bisa menjadi raja, contohnya adalah Ken Angrok ! Kemudian Mas Karenet anak kampung pinggiran di Tingkir, lalu Sutawijaya semua bukan waris tapi pewaris !
Dari itu semua, bukan mustahil apabila ada anak orang miskin menjadi ”raja” (presiden ) Indonesia ini.
Dan sebetulnya diantara dua calon presiden itu , orang yang memiliki keistimewaan ‘linuwih’ dan ‘waskita’ akan dapat melihat sinar ‘matahari di punggung diantara dua capres kita itu. Siapa capres yang memiliki sinar itu sebaiknya tanyakan pada yang orang yang memiliki linuih dan waskita dibidangnya.

TENTANG WAHYU KERATON YANG TERDAPAT PADA CALON PRESIDEN/RAJA

Untuk melihat tanda - tanda capres mana yang memiliki ’sinar matahari’ (”wahyu keraton) itu terdapat ciri-ciri yang biasa melekat seperti :
a. Raine kadang sumorot bercahaya
b. Raine kadang berganti ganti (mirip - mirip si A atau si B, namun bukan ‘mencala putra-mencala putri)
c. Ada dimana-mana secara ujug-ujug
d. Yen anggon-anggon (berpakaian keraton /resmi ) sudah mirip raja atau presiden.
e. meseme ora kepaksa
(Rg Bagus warsono)

Orang Indonesia Itu Paling Susah Menerima Kekalahan

Politik


Orang Indonesia Itu Paling Susah Menerima Kekalahan
Demikian sejarah Indonesia menulis, karakter manusia Indonesia yang sulit menerima kekalahan. Bahkan karena yakinnya akan kemenangan sebuah nasehat slalu mengatakan bahwa kekalahan “hanyalah kemenangan tertunda”.
Zaman penjajahan doeloe banyak pertempuran-pertempuran melawan penjajhan diceritakan oleh para sejarahwan slalu berujung kemenangan, sehingga berujung muncul beberapa tokoh pahlawan nasional. Sebuah peperangan biasanya diambil menghitung jumlah prajurit, logistik, persenjataan, perjanjian, wilayah kekuasaan, pampasan dan pengakuan. Namun orang Indonesia slalu memunculkan sisi kemenangan di salah satu segi kreteria perhitungan hasil kemenangan. Jika banyak prajurit yang gugur, slalu sejarawan menyebutkan bahwa ‘beruntunglah bawaha pimpinan peperangan itu (raja, senopati, dsb) masih selamat. Jika sampai ada raja yang menyerah tanpa syarat, dimunculkan tokoh lain agar kekalahan tak terjadi.
Keunikan Indonesia ini sampai pula pada masa perang kemerdekaan. Ada beberapa perjanjian dengan pihak penjajah yang merugikan kita. Namun karena Indonesia itu tak begitu sajatunduk pada perjanjian, maka slalu perjanjian itu dibatalkan . Disinilah atas dasar rasa cinta Tanah Air kita tak akan mau menerima kekalahan pada masa itu.
Keteguhan tidak mau menerima kekalahan itu juga dibuktikan oleh Diponegoro, meski sudah ditangkap, pantang baginya untuk menyerah. Begitu juga Soekarno, tak ada kata menyerah meski harus mengalami penjara/hukuman ataupu pembuangan.
Terakhir sudah jelas-jelas kekalahan politik saat terjadi jajak pendapat tentang Timor Timur , tetap saja orang Indonesia mengatakan nan memungkiri sebuah kekalahan politik Indonesia.
Di bidang olah raga misalnya, meski kalah bertanding, slalu media kita memberikan kesan menghibur diri, dengan memberikan sanjungan akan perjuangan mati-matian membela nama bangsa ini.
Karakter ’susah menerima kekalahan’ ini melekat erat dengan sifat orang jawa yang slalu menyebut kata ‘beruntung’ bila terjadi kegagalan bahkan terjadi kecelakaan. Untung masih ada……….., untung masih hidup , untung diselamatkan, untung masih bisa dibayar, untung tidak ketinggalan , dan sebagainya.
Karakter susah menerima kekalahan ini di diwariskan juga oleh budaya nenek moyang kita. cerita-cerita kepahlawanan slalu berujung kemenangan. Cerita ludruk dan wayang slalu dimenangkan oleh tokoh yang diidolakan rakyat. Sehingga begitu tertanam di hati anak-anak kita jiwa kesatria yang pantang menyerah.
Begitu juga falsafah-falsafah digunakan dalam berbagai organisasi, “pantang menyerah’, ‘pantang putus asa’, ‘pantang mundur’, dan berbagai semboyan kedaerahan seperti ’sekali layar terkembang , pantang surut kepantai’, “rawe-rawe rantas malang-malang putung” sebagai perumpamaan agar segala yang merintangi maksud tujuan harus disingkirkan.
Demikian keistimewaan orang Indonesia. Jika orang Barat mengatakan menyerah itu sebagai gentelmant, maka sebaliknya orang Indonesia kebanyakan untuk mau mengakui kekalahan itu justru sebagai orang yang dituduh penakut, bukan ksatria , kurang gentelmant.
Sekali lagi kegagalan itu hanyalah kemenangan tertunda begitu kata banyak motivator. Kita belum siap menerima kekalahan. Menerima kekalahan berarti malu . Dan malu ini dianggap sampai anak cucu. Meski ada juga orang yang legowo dan mau menerima kekalahan , hanya terdapat pada orang-orang yang menyadari bahwa setiap pertarungan bentuk apa pun slalu ada kalah dan menang. ***

Nanti Kalau Aku Capres 2019, Aku Tidur Saja

Nanti 2019 kalau saya calon presiden, tim suksesku bukan yang banyak bacot ! tetapi yang pinter membawa/cari suara yang banyaaaaaaaaak!
Dan tim suksesku juga harus bersih diri (minimal sudah mandi) soalnya bisa baunya nempel pada capres.
Dan tim suksesku tidak boleh suka menfitnah, tetapi sebaliknya harus ngalem lawan agar lawan juga milih padaku.
Dan semua tim sukses adalah calon mentriku, jumlahnya sesuai anggota kabinet, jadi mereka modalan sendiri tanpa aku mengeluarkan duit banyak. Karena mereka adalah calon mentri maka ia adalah calon pemimpin juga yang harus menunjukan keteladanan.
Dan tim suksesku yang muslim harus pandai mengaji dan alhi ibadah, apabila pilpres itu pas Ramadhan semuanya kelihatan indah.
Dan tim suksesku tidak boleh joged apalagi baca sajak yang dibutuhkan bukan pamer talenta tapi kreatif mendulang suara.
Dan tim suksesku tidak boleh muncul di televisi melebihi capres, nanti populair dia ketimbang capresnya. Tim sukses harus memberikan porsi lebih buat capres untuk terus tampil.
Tim suksesku harus cerdas tetapi tidak harus ahli berdebat, sebab walau debatnya menang juga bisa diplintir kalah, jadi hindari perseteruan , perdebatan, konfrontasi, atau saling hujat.
Tim suksesku nanti dibuat management dengan satu pemimpin yaitu aku sebagai capres. Dalam organisasi tim sukses dibuat beberapa departemen dengan satu orang tim sukses. Setiap departem,en dari organisasi tim suksesku memiliki ketua-ketua bidang yang terdiri dari calon-calon duta besar (sehingga mau mengeluarkan modal) , ketua-ketua bidang ini terdiri dari bidang pemenangan sampai bidang hukum, begitu seterusnya.
Tim suksesku nanti kelak yang bekerja keras, dan aku sebagai capresnya tinggal tidur menunggu tanggal 22 juli .

Berkacalah pada Bumbung Kosong

Bumbung Kosong demikian sebutan untuk tidak memilih calon Kepala Desa dikarenakan Pemilihan Kepala Desa hanya diikuti seorang peserta. Bumbung kosong bisa berbentuk kotak kosong tanpa nama, di surat suara pun tak ada gambar maupun nama (seandainya menggunakan surat suara) dan seandainya menggunakan alat lain,  bumbung tak bernama disediakan untuk diisi bagi pemilik suara yang tidak menghendaki calon kepala desa yang seorang itu.
Bumbung kosong menjadi alternatif pilihan walau pun calan hanya seorang dan pemilihan kepala desa harus dilaksanakan. Ia menjadi tempat ketidak-setujuan warga desa atas sosok calon kepala desa, juga menjadi tempat bersemayam berbagai ketidak-setujuan warga atas sistem pelaksanaan dan sebagainya. Bumbung kosong juga menampung suara-suara golput.
Ini Indonesia negeri yang unik. Orang disuruh memilih sesuatu yang tidak ada dalam suatu pemilihan aparatur negara yakni Kepala Desa. Lucu kelihtannya, bukan? Karena yang tidak ada itu menjadi pilihan maka ada pemilihnya, bahkan sering terjadi Bumbung Kosong memenangi pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa.
Bukan itu saja Indonesia menjadi negri yang  unik, namun juga menyimpan misteri. Bumbung kosong menjadi sosok yang menakutkan bagi pesaingnya yang hanya seorang itu. Karena menjadi alternatif pilihan bumbung kosong menjadi memiliki “roh” seakan hidup dan memiliki kekuatan, padahal bumbung kosong tanpa gerak, tanpa tim sukses, tanpa strategi, dan tanpa pos komando serta majikan.
Rakyat Indonesia ternyata biasa dihadapkan pada pilihan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju, ada atau tidak ada, memilih atau tidak memilih. Desa ditentukan oleh warga desanya. Demokratis yang mengakar di masyarakat.
Bagi tim sukses Calon Kepala Desa yang hanya seorang itu justru dihadapkan pada kerja keras untuk memenangkan pemilihan dalam ajang Pemilihan Kepala Desa itu karena berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui. Kerja tim sukses untuk meraih banyak suara tetap dilakukan. Semakin kuat tim sukses calon kepala desa yang hanya seorang itu bekerja, semakin kuat Bumbung Kosong itu, padahal di pihak Bumbung kosong tak ada yang bergerak,  tak ada yang mewakili seorang pun. Itulah ‘roh’ Bumbung Kosong.
Kecintaan pada kampung halaman adalah kecintaan warga kampung itu, mereka tak mau Desa terbaiknya tanpa kepala desa, tanpa lambang pemimpin, tanpa ada sosok pucuk pimpinan yang mengatur keadaan desa dan warganya, jadi calon yang seorang itu adalah putra terbaik desa yang harus dipilih. Sebaliknya warga desa pun tak mau mengorbankan desanya sehingga bumbung kosong menjadialternatif untuk menunggu sampai kemudian kelak akan ada pemilihan berikutnya dengan calon yang lebih baik.
Ketika pemilihan kepala desa itu dilaksanakan dan dihitung angkanya. Apa mau dikata Bumbung Kosong pemenangnya. Sebaliknya  ketika Bumbung kosong itu kalah dan pemenangnya pada calon yang seorang itu, maka betapa lucunya seseorang bertarung dengan sesuatu yang tidak ada namun dilaksanakan di ajang Pemilihan Kepala Desa yang mengeluarkan biaya dan tenaga yang besar.
Bersyukur Republik ini  miliki dua pasang capres-cawapres dalam pilpres 2014 ini.  Mereka dua orang capres dan dua orang cawapres adalah putra terbaik bangsa ini. Siapa yang terpilih pasti adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Semoga tak akan terjadi Bumbung kosong di Pemilu Presiden Republik ini agar kita tidak merugi.

Kualisi Permanen Kenapa Tidak Fusi Saja

Sepertinya di DPR pun tetep gontok-gontokan padahal fungsi DPR kan sebagai wakil rakyat yang yang dalam kedudukannya tidak hanya menyampaikan aspirasi tetapi juga berada di pihak rakyat dengan melepas baju partainya dan secara perseorangan mewakili rakyat duduk di DPR walau pun sebagai wakil dari sebuah partai peserta pemilu dan ia kedudukannya sebagai anggota DPR bagi rakyat Indonesia
Begitu juga presiden, dari mulai dilantik dan memegang jabatan itu ia adalah presiden seluruh rakyat Indonesia dan bukan presiden dari partai ia berasal atau presiden dari koalisi partai apa ia berasal
Jika sampai terjadi ada koalisi parlemen, dan di parlemen terdapat dua kubu koalisi, maka anggota DPR hanya memiliki 2 pilihan, berarti ini seperti kita memiliki hanya 2 partai di parlemen, seperti di Amerika itu.
Oleh karena menginginkan suara yang kuat di legeslatif maka th 1970, 1977, dan 2004 , dan 2009, 2014 partai-partai memfusikan diri. Semakin sedikit jumlah partai di parlemen maka semakin mengerucut suara. Namun demikian ketika di DPR hanya terdapat tida partai seperti zaman Orde Baru, Golkar sebagai partai besar tidak selalu meng-gol-kan sebuah keputusan di DPR langsung menjadikan keputusan tetapi tetap membutuhkan legeslatif itu.

Status FB-Mu tentang Pilpres Lucu-lucu

Membaca status temanku lucu-lucu tentang pilpres 2014 ini
Ada yang membela salah satu pasangan capres sampai apa pun hasilnya.
Ada yang semula membela pasangan capres ‘A beralih ke ‘B atau sebaliknya , mungkin banyak terpengaruh status lain.
Ada yang juga yang gonta-ganti membela pasangan capres, sekadar komentar menyenangkan pemilik status
Ada yang menghilang dalam pembelaannya terhadap pasangan capres.
Ada yang semakin bersemangat
Ada juga yang bersemangat pada awalnya kemudian menyadari apa yang terjadi berpindah haluan.
Itu semua kawan-klawanku, karenanya jangan dijadikan serius-serius amat.

Timses prabowo Kurang Kreatif Dulang Suara, Padahal Prabowo Itu Cerdas, Evaluasi Pasca pilpres

Prabowo Subianto itu orang cerdas dan berpandangan luas. Buktinya ia dengan sendiri saja sudah mampu mempersiapkan diri untuk menjadi Capres sejak tahun 1990-an dengan membuat organisasi-organisasi kerakyatan agar kelak ia memiliki basis pendukung yang kuat. HKTI adalah bentuk kekuatan basic Prabowo jauh hari sebelumnya. Bukti kecerdasan Prabowo lain adalah kemampuannya dalam bisnis hingga berhasil sukses. Dan bukti lainnya adalah kemampuannya menguasai bahasa bahasa asing dengan cepat. Sedang di bidang strategi militer termasuk orang yang pantas dimintai nasehatnya karena memiliki banyak pengalaman operasi militer.
Pada pilpres 2009 dimana ia bersama Megawati, Ia  mencalonkan sebagai Wakil Presiden. Dalam kampanye-kampanye Prabowo sangat menarik simpati masyarakat. Tampa nashat dari tim sukses , Prabowo banyak bicara tentang masalah pertanian, nelayan, air, dan buruh yang memikat masyarakat pada saat itu. Justru sangat aneh terjadi pada diri Prabowo kini, Mungkin karena menggunakan nasehat-nasehat dari timsesnya yang justru merugikan. Bahkan dalam sebuah kesempatan Debat Capres , Prabowo dengan terang-terangan menyatakan jawaban atas pertanyaan Jokowi yang tidak menuruti nasehat nasehat tim suksesnya.
Kesalahan itu terletak pada pemilihan timses yang tidak berpengaruh mendulang suara seperti penunjukannya pada Mahmud MD sebagai ketua tim pemenangan. Padahal dari teman koalisinya seperi dari Golkar cukup banyak yang piawai menjadi ketua tim p[emenangan sebut saja misalnya Akbar tanjung atau Agung Laksono, atau tokoh tuadari organisasi pendiri Golkar seperti Suhardiman. Pilihan pada Mahmud MD justru kurang membawa suara karena Mahmud sendiri adalah tokoh yang dicalonkan  PKB  sebagai capres sebelumnya. PKB sendiri menjadi teman koalisi di kubu Jokowi.
Tokoh-tokoh PKS memang kebanyakan adalah orng-orang cerdas, namun Partai ini lebih kuat di lapisan bawahnya ketibang di elit politik. Masa PKS yang berada di lapisan bawah terkenal sangat loyal, namun tokoh-tokohnya semenjak ketua PKS yang lalu kesandung perkara tidak mengundang simpati publik. Kemudian Herutanu juga hanya kuat di pemanfaatkan memiliki media tv. Dia sendiri secara pribadi kurang mendapat pilihan publik yang diidolakan tak seperti Ahok.
Penulis jutru memuji Fadli Zon yang akhirmya harus mengurusi semuanya. Kemudian tokoh sewperti Ical juga hanya pemanfaatan dirinya sebagaio ketua umum Golkar. Namun secara pribadi Ical tak banyak memberikan pengaruh tyerhadap pemilih.  Begitu juga Surya Darma Ali (SDA) hanya pem,anfaatan sebagai ketua partai koalisi, sedang SDA sendiri di partai PPP kurang mendapat dukungan.
Kemudian tokoh tim ses lain seperti Tantowi Yahya dan Ahmad Dhani,Roma Irama  meski mereka artisnamun tak juga membawa suara banyak untuk memilih Prabowo. Sedang  Roma Irama yang berada di kubu Prabowo hanya  untuk hiburan semata,
Jika sampai 22 Juli 2014 nanti Prabowo-Hatta  tidak unggul dari pasangan capres rivalnya bukan tidak mungkin disebabkan oleh timses yang kurang kreatif mendulang suara. Menjadikan pengalaman berharga bahwa jika kita hendak mencalonkan pada sesuatu tujuan dengan cara persaingan perolehan pemilih/suara, maka apabila memilih timses harus yang mampu mendulang suara. Di pihak Jokowi justru timsesnya adalah orang-orang yang membawa gerbong suara sebut saja misalnya Kofifah , Anis Baswedan, Luhut Panjaitan, Surya Paloh  sampai awak grup musik Slank adalah orang-orang kreatif yang juga memiliki gerbong suara.

Surya Paloh Miliki Ketajaman Siapa Presiden Indonesia



Adalah partai Nasdem yang tanpa dirayu-rayu lagi langsung menerima bergabung dengan Capres Jokowi. Sebuah tanda tanya besar mengapa Suya Paloh yang juga calon presiden tampa ragu ragu lagi menerima begitu saja pinangan Jokowi. Saat itu juga sebagian publik dan pengamat mengira Surya Paloh bakal disandingkan dengan Jokowi, namun sungguh diluar dugaan ketika Surya Paloh justru mempersilahkan Joikowi memilih pasangan cawapresnya.
Banyak capres dalam masa sebelum deadline pendaftaran dibuka dan ditutup masih dalam negoisasi [asangan caprers dan cawapres. Surya Paloh justru tampa ragu dan tampa syarat mau mendukung Jokowi bahkan yang pertama kali. Surya paloh sendiri bahkan berani  jika kubu Caprses  Jokowi tanpa teman partai koaliosi lain.  Aneh bukan? Disini letak ketajaman pandangan seorang tokoh politik tingkat tinggi seperti Surya Paloh.
Sebagai seorang yang lama berkecipung di dunia politik , Surya Paloh memang cukup disegani memiliki wawasan dan cara pandang yang ulung. Apalagi lama menjadi orang media. Sepertrinya sudah dapat membaca gelagat siapa Presiden yang akan meneruskan SBY ini.
Sebagai seorang orator justru Surya poloh lebih banyak diam dan jarang mengeluarkan statement saat kampanye pilpres. Beda sekali dengan tokoh lainnya yang berada di kubu capres Jokowi. Ia lebih banyak di balik  layar mengatur setrategi sebagaimana kedududkannya dalam koalisi capres Jokowi-Jk sebagai penasehat tim sukses capres Jokowi-Jk.
Sebagaimana  tokoh-tokoh politik yang pandai berpidato di Indonesia banyak yang belajar dari Bung Karno. Termasuk diantara tokoh politik seperti Surya Paloh, Prabowo Subianto adalah orator-orator yang banyak diilhami oleh sosok Bung Karno. Lihatr saja pidatonya yang slalu berapi-api.
Surya Paloh yang  jebolan Partai Golkar  memang tokoh senior dalam jajaran politikus Indonesia dewasa ini. Ketokohannya yang memiliki ciri khas tersendiri membawanya Partai Nasdem ke dalam jajaran Partai besar di Indonesia. Nasdem yang yang tak disangka-sangka dapat meraih posisi dalam jajaran partai-partai besar seperi Golkar, PDIP, Demokrat, Garindra, dan PKB.  Padahal partai ini masih tergolong partai yang sangat muda dan baru pertama kali memasuki kancah pemilu legeslatif.
Bahkan ketika Herutanu Sudibyo meninggalkan Nasdem dan bergabung di Hanura, Surya Paloh sudah dapat mmpertimbangkannya untuk melihat  dengan matang langkah  Herutanu.

Negarawan Itu Tak Mesti Presiden

Negarawan dalam sudut pandang psikologis adah pemilik jiwa kebangsan yang slalu mengutamakan keselamatan negara. Sejarah perjuangan kemerdekaan telah mengorbankan banyak mahaputra demi Tanah Air. Beberapa tokoh perjuangan pergerakan kemerdekan seperti Ali Sastroamidjojo, Tan Malaka, H Agus Salim, Suardu Suryaningrat, dan lain-lain adalah seorang negarawan dalam kiprahnya sebagai pemimpin pemimpin bangsa.
Dalam cerita pewayangan Wibisono (adik Dasamuka), meski tak menjadi raja adalah seorang yang memiliki jiwa kenegarawan. Ia bukan membela kakaknya yang terkenal jahat, tetapi negara harus tetap diselamatkan.
Hal kata ‘negarawan.  menyimpan juga makna makna mengalah demi menjaga kesatuan -persatuan negara (bahasa Jawa : legowo). Ini diibaratkan sebagai seorang kesatria yang rela nyawanya dikorbankan demi negara.
Presiden secara personal memang seorang negarawan, namun belum tentu memiliki pengertian negara dalam sudut pandang spikologis jiwa kebangsaan. Boleh jadi ia duduk di kursi presiden hanya karena kekuasaan, keturunan, bahkan harta.  Presiden yang memiliki jiwa kenegarawanan adalah seorang pribadi presiden yang senantiasa mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi atau keluarganya, atau kelompoknya.  Namun sebaliknya seorang tokoh meski tanpa menduduki sebagai presiden jika pengorbanannya terhadap neegara sangat luar biasa dalam ukuran nasional adalah juga seorang negarawan.
Dalam sudut pandang popularitas ketokohan memang memang seorang yang disebut negarawan harus populair baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Meski bukan seorang presiden dengan aktifitasntnya mengurus negara sehingga populair tak jarang orang menyerbutnya sebagai negarawan.

Sebetulnya Demokrat Simpan Nama Capresnya Sendiri, Evaluasi Pasca Pilpres

Ada sesuatu yang aneh dalam partai Demokrat, kebijakannya menunggu pendaftar di KPU sebagai capres adalah menyimpan sesuatu perhitungan akan kekuatan partai ini untuk menyaingi tokoh yang sudah dulu mendeklarasikan seperi Joko Widodo (PDIP), Aburizal Bakrie (P Golkar) , dan Prabowo Subianto (P Garindra).
Hingga deadline batas waktu dibukanya pendaftaran , dan fenomena menunjukan pada dua kubu persaingan , Demokrat semakin ‘bingung menentukan pilihannya yang akhirnya bergabung di kubu capres Prabowo. Namun demikian tampak diperlihatkan pada SBY yang dalam kapasitasnya yang mengganggu dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina P Demokrat yakni ia masih menjabat sebagai presiden. Karenanya SBY lebih memilih pada posisi netral.
Perhitungan dalam menunggu perkembangan siapa yang positif sebagai capres itu adalah perhitungan kekuatan  calon  pemilih di lapangan dimana tokoh seperti Jokowidodo perlu mendapat lawan yang kuat lagi  dalam pilpres. Itulah sebabnya karena Prabowo Subianto berhasil meyakinkan lima partai dan bergabung dalam koalisinya, maka tak ada harapn lain bagi Demokrat untuk mau tidak mau bergabung dengan koalisi Merah Putih-nya Prabowo, sebab jika tidak, maka diatas kertas capres Joko Widodo yang  kian populair itu sulit disaingi.
Bahkan ketika muncul isu poros tengah atau ketika golkar mengajak bergabung dengan Demokrat tetap Demokrat berdiam diri. Hal demikian karena partai ini telah memperhitungkan masak bahwa untuk melawan tokoh fenomental seperti Jokowi perlu penggabungan partaiang besar. Jika capres ada tiga maka justru lebih menguntungkan Jokowi.
Dengan banyak bergabungnya partai di koalisi Marah Putih untuk memenangkan Prabowo subianto-Hatta Rajasa maka Demokrat pun turut bergabung malu-malu.
Tentu saja ini bisa jadi mengecewakan masa Demokrat apalagi melihat sikap SBY yang seperti mendua diantara Prabowo dan jokowi, namun kita semua maklum adanya  karena seorang presiden.

Aryo Penangsang pun Diidolakan Rakyat

Siapa bilang sosok seperti Aryo Penangsang itu dibenci rakyat? Buktinya masyarakat daerah Cepu, Blora dan Bojonegoro justru mengidolakan tokoh kontrofersial ini. begitu juga masyarakat daerah lainnya dan kalangan muda pecinta sejarah. Sosok Aryo penangsang dianggap pahlawan  gagah berani, teguh pendirian , memiliki cita-cita besar, cerdas dan sakti mandraguna.
Justru sifat-sifat Aryo Penangsang yang slalu tidak sabaran, Cepat marah dan serampangan tanpa perhitungan ini malah menjadi sebuah perumpamaan lelaki yang gagah harus dimiliki  laki-laki. Demikian masyarakat malah bangga dengan sosok yang “pogal” ini.
Terutama saat membela keluarga. Demikian Aryo Penangsang menjadi sosok tokoh sejarah  yang sering disebut di Jawa. Ia tidak saja menjadi idola namun juga sebgai perlambang dari laki-laki yang memiliki jiwa ksatria.
Di sinilah letak keunikan masyarakat kita, tidak semua yang menurut  orang itu jelek menjadi jelek dimata orang lain, sebaliknya tak semua yang kita anggap  bagus itu menjadi bagus dimata orang lain. Indonesia meliki banyak tokoh-tokoh kontrofersial. Hal demikian dikarenakan sudut pandang apa kita menilainya. Sosok seperti Aryo Penangsang, Untung Suropati, Ken anrok, Jaka Tingkir,  bahkan Malin Kundang justru digemari orang Indonesia.
Demikian sejarah-sejarah Indonesia hingga merdeka banyak disebut tokoh-tokoh yang kontrofersial. Sebuah pandangan masyarakat yang melengkapi pandangannya terhadap tokoh-tokoh ‘kalem’  dan lemah lembut yang disenangi generasi muda.
Diantara pandangan masyarakat itu terkadang tidak suka pada sosok tokoh yang lembek meskipun orang itu jujur dan sakti . Di kisah pewayangan tokoh-tokoh gagah mucul menyaingi Harjuna yang terlihatseperti ‘banci’ seperti Gatootkaca, Kresna, Warkudara, Karna, Kumbokarno dan sebagainya. Perbedaan pandangan masyarakat terhadap sosok tokoh memang sangat wajar dan patut kita maklumi.

Pilpres Selesai Ganti masalah Mudik, THR, Sembako Mahal, Arus Balik

Geliat masyarakat pasca pilpres mulai beralih setelah penat dalam dua bulan terakhir menyita perhatian siapa Presiden pengganti SBY. setelah KPU mengumumkan hasil pemilu Pressiden dan menyatakan kemenangn terhadap pasangan Jokowi-Jk masyarakat bawah kembali pada rutinitasnya dalam keseharian. Terutama di bulan Ramadhan ini permasalahan yang nyaris tak di sentuh oleh media nasional adalah masalah-masalah Mudik Lebaran yang kemarin terjadi kemacetan akibat ambruknya jembatan Comal di Pemalang Jawa tengah.
Permasalahan mudik yang jauh hari sebelumnya telah disiapkan berupa perbaikan jalan di jalur pantura ternyata masih ada yang luput dari pengawasan dan kewaspadaan pemerintah akan kondisi sarana jembatan penghubung jalan yang sudah berumur tua dan patut diganti. Mudih akhirnya terganggu, jutaan manusia terhanbat dan terlambat sampai rumah.
Begitu pula masalah THR yang masih kurang diperhatikan di berbagai perusahaan, hal demikian dikarenakan belum ada peraturan pemerintah akan THR bagi buruh yang bekerja di perusahaan milik non muslim. Juga mengenai libur dan cuti lebaran yang harus diberikan pada buruh tanpa mengurangi jam kerja yang dihitung gajinya.
Masalah lain adalah masalah kenaikan harga jelang lebaran , Pemerintah harus mengantisipasi adanya lonjakan harga bahan pangan jelang lebaran. Antisipasi stok, serta harga eceran tertinggi patut diperhatikan. Banyak dijumpai keluhan ibu-ibu rumah tangga akan adanya kekurangan-kekurangan bahan pangan yang mengakibatkan mahalnya barang itu.
Kemudia antisipasi arus balik yang juga harus dipersiapkan biasaya arus balik akan lebih besar dari pada arus mudik, meskipun tenggang arus balik memiliki masa yang lebih anjang ketimbang arus mudik.
Demikian pilpres telah selesai dan masyarakat sudah saling menerima sipa kelak nanti presidennya setelah SBY. Pilpres yang menguras , pikiran,  perhatian dan tenaga itu kini telah dilewati dengan aman . Semoga Indonesia tetap aman dan lancar.

Seandainya Anda Timses Juga Begitu

Garindra kini menjadi partai besar (hasil pilleg), partai ini juga dipandang sebagai partai bersih karena belum memegang pemerintahan, pengurus dan tokoh-tokohnya tidak ada yang kesandung KPK, begitu juga Prabowo hampir 46 % dipilih rakyat yang berarti seorang tokoh yag dihormati dan pilihan hampir separuh orang desawa Indonesia. Ia tokoh nasional yang polulair di dalam dan di luar negeri. Beroposisi dengan partainya yang bersih dan berkembang ini sungguh lebih terhormat. Namun teman koalisinya justru menjerumuskan, kerja pemenangan pilpresnya tak kreatif dan tidak inovatif, mesin partai yang mendapat simati rakyat di pilleg menjadi terhambat. Teman yang tidak menguntungkan. Sebagai contoh juga diperlihatkan ketua timsesnya, Mahmud MD, seakan lari dari tanggung jawab, sebuah sifat yang kurang bagus apabila kita semula menjadi timses sebelum dibubarkan sudah lari duluan. Hal yang wajar apabila timses lain yang tentu masih memiliki tugas sebelum timses dibubarkan masih tetap membela Prabowo-Hatta. Seandainya Anda pun menjadi timses tentu akan membela siapa yang mesti didukung sebelum timses dibubarkan. Setelah itu (timses dibubarkan) barulah kita diluar status timses. Hal mengenai menang dan kalah , jujur dan tidak jujur, curang dan tidak curang, akan slalu ada dalam setiap perhelatan event pemilihan baik tertutup maupun terbuka. Kebenaran dan pembenaran hukum kita serahkan pada hukum yang berlaku di negeri ini

Gugat ke MK, Cermin KPU/KPUD ke Depan

Ketika Anggota KPU/KPUD dilantik dengan pengamblian sumpah sesuai agamanya masing-masing adalah sebuah pernyataan bagi KPU untuk berbuat sejujur-jujurnya dalam melaksanakan tugas sebagai pelayan pelaksanaan pemilu di Indonesia. Sumpah ini dipandang oleh masyarakat sebagai jaminan dan yakin bahwa penyelenggara pemilu baik itu pileg, pilbub/pilwalkot, pilkada, maupun pilpres tak akan melakukan tindakan kecurangan atau berpihak tetapi bersikap netral. Sebuah jaminan dengan resiko yang akan ditanggungnya ketika nanti di akherat.
Namum Sumpah terkadang dilupakan mengingat pembalasannya ketika menghadap Tuhannya. Perkara akherat itu urusan nanti. Jadilah sumpah ini seakan sesuatu yang diremehkan yang penting ‘tidak ketahuan mata umum’ .
Sesuai sumpahnya itu Anggota KPU telah digaris aturan. Aturan yang mengikat pelaksanaan pemilu yang menjadi tanggung-jawabnya. Dari mulai pendataan hingga, pengadaan, pendistribusian, pelaksanaan, perhitungan, penetapan suara dan pemberian keputusan sebetulnya mengikat sumpah itu.
Namun demikian KKN slalu mengincar berbagai segi kehidupan ini tak terkecuali di KPU. Benar dan tidaknya pemberitaan serta benar tidaknya adanya kasus di tubuh KPU adalah sebuah cermin untuk membentuk KPU yang lebih profesional ke depan.  Rekrutmen anggota KPU di daerah terkadang bersifat seadanya yang mendaftar sehingga meski dilakukan tes seleksi yang lulus pun seadanya SDM di suatu daerah itu. Terkesan mendadak menjelang pemilu. keadaan seperti ini akan membuat kerawanan pelaksanaan pemilu di suatu daerah , terlebih dengan banyaknya peraturan dan perundangan yang harus diturut dalam pelaksanaan pemilu. Meski ada Panwas atas Bawaslu jika kekurang-profesional-an terjadi maka akibatnya akan muncul kasus-kasus baik disengaja maupun tak disengaja.
Jumlah gugatan baik di ajang pemilu legeslatif, pilbub/pilwalkot, pilkada terbilang cukup banyak. Terlepas siapa yang memenangkan perkara atau siapa yang kalah . adanya gugatan pemilu di suatu tempat akan mengudang publik bertanya-tanya dan menimbulkan polemik tersendiri. Ditambah dengan membengkaknya biaya yang ditanggung pemerintah apalagi sampai diadakan pemilu ulang.
Kini sedang ramai-ramainya profesionalisasi di segala profesi. Anggota KPU sudah selayaknya memiliki profesionalisasiterhadaptugasnya. Akan lebih baik jika tidak bersifat dadakan, seperti sekarang ini dilantik kemudian bekerja.  Tahapan penjaringan anggota KPUD dengan mendapatkan pendidikan cukup sebelum menjadi anggota KPU akan lebih mengarah profesionalisme. Tidak asal pilih , tes kemudian dilantik dan bekerja.

Golkar dan Demokrat Lebih Cerdas

Nyata sekarang pengalaman dan kemampuan sumber daya manusia akan mampu menjalin lobi/negoisasi atau komunikasi yang baik. P Golkar dan P Demokrat telah membuktikan hal itu di DPR dan MPR dengan mampu memenangkan sebagai pemimpin dua lembaga terhormat itu.
Gerindra (Prabowo Subianto) harus menyadari bahwa anggota KMP bukan anak buah tetapi mitra. Sekarang 2 point ketua DPR dan MPR bukan Gerindra yang pegang. Adalah kecerdikan P Golkar dan P Demokrat yang memdompleng kekuatan KMP sehingga Golkar dan Demokrat berhasil kuasai DPR dan MPR.
Lambat laun partai pemimpin koalisi merah putih sadar dibohongi partai anggotanya. Sekarang 2 point ketua DPR dan MPR bukan Gerindra yang pegang.
‘Jual mahal’ dan berpura-pura menjadi penyeimbang, P Demokrat berhasil mengantarkan Zulkifli Hasan sebagai ketua MPR. Dan Gerindra sebagai pemimpin KMP hanya gigit jari.
PPP harus menyadari posisinya, di KMP ia “dianaktirikan” masuk ke KIH sudah kepalang tanggung di KMP. Kemantapan hati itu perlu agar tidak mencla mencle.
Sudah jelas DPD itu berasal dari berbagai elemen tak mungkin dapat disatukan suaranya, tetapi PDIP mengajaknya untuk bergabung dalam rangka suksesi pimpinan MPR. Mangharap harapan yang tak mungkin. Lebih baik mengambil simpati rakyat saja.

Sisi Gaya Politik SBY “Disuwe-suwe” Ternyata Sukses Sampai Akhir Jabatan

Ada keistimewaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono yakni gayanya yang di suwe suwe.
Gaya “disuwe -suwe” (diantep/ di lama-lama) dalam menangangi berbagai permasalahan yang di pakai SBY ini ternyata sangat ampuh dan dapat menyelamatkan diri dariberbagai persoalan.
Kita tidak dapat meniru teknik Presiden SBY untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti menggunakan gaya” disuwe-suwe ” SBY , gaya yang satu ini hanya khusus bisadilakukan oleh SBY sendiri. Sebab jika dilakukan orang lain belum tentu sukses bahkan bisa didemo orang.
Gaya “disuwe-suwe ” (diantep/dilama-lama) yang dilakukan SBY sebetulnya adalah meniru gaya pendahulunya yakni ilmu dari Presiden Soeharto yakni ilmu Jawa dan falsafal Jawa seperti ‘ngati-ati” , “ojo maju yen durung mantep”, “ojo klalen nyekel pusaka yen maju perang”, “delengo maneh yen arep titah”, dan ” sangu yen arep lelungan”
Jika ditilik dari latarbelakangnya sebagai seorang serdadu, SBY sangat mustahil memiliki gaya “disuwe-suwe” ini. Tetapi Ia menyerap ilmu Soeharto dengan baik untuk diterapkan di masa reformasi. Karakter rakyat di masa reformasi yang cepat panas harus dilawan dengan air agar ‘adem”.
Tentu saja gaya “disuwe-suwe ” (diantep/dilama-lama) yang dilakukan SBY dari menyerap ilmu gaya Presiden Soeharto, walau memang sangat menguntungkan mereka, tidak bisa dipakai Presiden Terpilih Jokowi , Karakter sangat berbeda jauh. Jokowi terkenal sebagai orang yang “tidaksabaran” untuk segera menyelesaikan sesuatu. Namun ada baiknyaJokowi pun melihat gaya ini untuk permasalahan tertentu.
Untuk mendapat simpati, Jokowi juga sebetulnya bisa seperti SBY yang bisa 2 X masa presiden , SBY karena pandai mengambil hati rakyat. Senyum Jokowi lebih menawan , tinggal kekurangannya mudah bereaksi terhadap kritik yang seharusnya tidak perlu diladeni, dan mengurangi kata-kata emosi di media.

Tandingan-tandingan itu

Tulisan ‘tandingan’
Hal mengenai “tandingan” sudah ada sejak zaman pewayangan , dalam sejarah Indonesia ‘tandingan’ kerap muncul dalam sejarah-sejarah kerajaan. Raja tandingan, ratu tandingan, sampai bupati tandingan itu sudah ada. Di era perjuangan kemerdekaan RI, ‘presiden tandingan’ pun sudah ada. Dimasa Kemerdekaan juga diteruskan cara-cara ketidak-puasan dengan ‘tandingan. Babak-babak tandingan pun dilanjutkan zaman orde lama, orde baru, dan kini orde reformasi.
Disegi ekonomi hal mengenai ‘tandingan’ ada segi untungnya jika menunjukan persaingan yang sehat lagi pula menguntungkan agar tidak terjadi monopoli. Namun kejadian ‘tandingan ini telah terjadi di berbagai segi kehidupan di Indonesia. Di lingkungan pendidikan, organisasi, pemerintahan, hingga organisasi politik.
Bagaimana di dunia sastra Indonesia? apakah pernah terjadi hal ‘tandingan’ ? Tentu saja ada meskipun tarafnya baru semacam ‘persaingan’
Timbulnya raja ‘kembar’, ratu ‘kembar’ , atau presiden’kembar’ , sampai ketua partai polik kembar adalah akibat ketidakpuasan yang didorong oleh ketidakpuasan lain. Ketidakpuasan itu didorong oleh ambisi , dan “ambisi” bekerja apabila ada dorongan semangat walaupun sedikit, baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius.
Bila kita temukan kejadian ‘tandingan’ di kehidupan sekarang adalah wajar. Kewajaran itu apabila didasari seperti disebutkan tadi , baik itu cita, cinta, sanjungan, materi dan ideologi yang diramu sehingga menjadi ambisius. Tetapi jangan katakan maklum bila tandingan dipengaruhi pihak ketiga . Jika hal ini terjadi maka bukan lagi tandingan dua pihak tetapi melibatkan berbagai pihak. Nah ini repotnya.

Pada Akhirnya Tak Ada Koalisi-koalisian

Koalisi partai hanyalah kepentingan sesaat. Biasanya hanya dalam satu event kompetisi, setelah kegiatannya kelar maka mereka jalan sendiri-sendiri. Kekuatan bertahan sebuah koalisi bertahan jika memiliki masa kesamaan kepentingan terpelihara andai hasil dari keterlibatan dalam koalisi itu bersifat adil.
Koalisi yang terdiri dari satu partai besar dengan anggota-anggota partai kecil biasanya akan lebih lama bertahan namun ini pun jika pimpinan koalisi sanggup mengakomodir keinginan anggotanya sehingga merupakan  ketergantungan kebutuhan.  Dengan kata partai kecil bersedia ikut dalam koalisi asalkan terpenuhi kebutuhannya.
Agaknya kepentingan sesaat bisa diterima sebagai terbentuknya koalisi itu. Bukti ini dapat dilihat ketika Partai Golkar dan PDIP berseberangan di tingkat pusat, di daerah justru  P Golkar dan PDIP berkoalisi untuk memenangkan pasangan calon  kepala daerah diajang Pilkada.
Koalisi dengan kesamaan ideologis memiliki kemungkinan bersatu. Namun setiap partai politik memiliki idiologinya masing-masing. Jika ada lebih dari satu partai memiliki ideologi yang sama dikarenakan hanya ambisi tokoh-tokohnya yang ingin menjadi pimpinan sehingga mendirikan partai baru. Kesamaan idiologi partai partai baru dari muara yang sama kemudian membedakan diri dengan idiologi induknya meskipun dipandang memiliki kesesuaian idiologi. partai-partai yang walau memiliki kesesuaian idiologi biasanya tak mau bersatu dalam koalisi karena ego elit partainya serta nilai historis pendirian partai itu.
Bukti-bukti itu dapat dilihat pada masa orde lama, orde baru , dan masa reformasi sekarang ini. Partai pecahan yang tak berkembang lebih baik tidak berkoalisi dengan partai ‘induknya’ atau membiarkan partai itu menghilang dengan sendirinya.
Ketika ajang Pemilu Presiden ada dua koalisi besar yang masing-masing mengusung calon presiden dan wakil presidennya. Koalisi Merah Putih (KMP) terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat (PD) , Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (Nasdem) , Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Kedaulatan Bangsa (PKB). Koalisi ini terbentuk atas dasar keinginan memenangkan pemilu presiden dan lebih dari itu bertujuan koalisi dapat duduk terlibat langsung dalam pemerintahan 5 tahun kedepan.
Dinamika kemudian memunculkan KIH sebagai pemenang pemilu presiden dan KMP menyatakan sebagai oposisi.  KMP yang menguasai parlemen dan KIH memegang pemerintahan. Nasib koalisi KMP dan KIH pun berkembang pula terutama ketika dihadapkan pada buah koalisi itu. Di KIH banyak anggota koalisi yang tak puas dengan kebijakan presiden teruitama dalam rekrutmen mentri atau pejabat negara. Buah koalisi itu dirasa tidak adil kartena porsi jatah mentri asal partai anggota koalisi sedikit sekali. Kemudian di KMP yang menguasai parlemen saling berebut pimpinan parlemen itu. Di DPR , PPP tak kebagian jatah pimpinan DPR. P Gerindra dan PPP sebagai pimpinan koalisi tak dapat kursi pimpinan  MPR.  Ketua DPR berhasil diraih P Golkar dan Ketua MPR diraih P Demokrat. Kekecewaan pun akhirnya pada PPP yang tak mendapat kursi pimpinan DPR dan MPR.
Buntut buah koalisi bagi mereka partai anggota koalisi  yang merasa  tidak diperlakukan adil itu akan menimbulkan benih-benih perpecahan. Kadar kekecewaan biasanya berasal dari ketidak-adilan pembagian buah koalisi. Kekecewaan anadai tak segera diobati akan menimbulkan perpecahan dari sebuah koalisi. Baik di KMP yang menguasai parlemen dan KIH yang menguasai pemerintahan semua sama-sama rawan perpecahan.
Lambat laun koalisi pun akan berakhir dan anggota koalisi akan jalan sendiri-sendiri. Sebentar lagi ajang Pemilihan Kepala Daerah akan dilaksanakan , keanggotaan koalisi didaerah akan berbeda dengan di pusat mengingat kepentingan yang berbeda. Partai politik di daerah menyiapkan strateginya untuk menggolkan calonnya masing-masing. Koalisi pun akhirnya bersifat tawar. Siapapun bisa diajak bergabung atau putus dan menjadi lawan koalisi.
Koalisi partai di Indonesia , sebuah negara dimana rakyanya masih mengutamakan segi ekonomis dan penghargaan status sosial , dapat dikatakan hanyalah koalisi jangka pendek dan tak mungkin permanen. Baik KMP dan KIH sama memiliki potensi bubar.
Kemudian mendekati  jelang 2019 nanti semua partai akan mempersiapkan untuk membesarkan partainya masing-masing . Koalisi hanyalah sesaat selama kesamaan kepentingan belum tercapai. Pada akhirnya tak ada koalisi-koalisian.
Rg Bagus Warsono 10-12-14

Jika, Hitungan Selalu Kalah Koalisi Parlemen Lebih Baik Bubar

Matematika kadang begitu rumit namun rasional, penulis tidaklah bermaksud menggunakan matematika politik yang tak terjangkau dengan mereka yang memang pelaku politik praktis. Penulis hanya menggunakan hitungan kecil yang tak perlu menggunakan kalkulator sebab membaca peta kekuatan dua koalisi di parlemen dapat dilihat  dari perkembangan   dinamika politik yang ada.
Baiklah kita lihat sebelumnya Koalisi Merah Putih pada 1 Oktober lalu didukung oleh 6 Partai yaituGolkar (91 kursi), Gerindra (73 Kursi), Demokrat (61 Kursi), PAN (48 Kursi), PKS (40 kursi) dan PPP (39 Kursi). Total kekuatan KMP pada 1 Oktober lalu sebanyak 352 Kursi. Sementara Koalisi KIH : PDIP (109 Kursi), PKB (47 Kursi), Nasdem (36 Kursi) dan Hanura (16 Kursi) hanya berjumlah 208 Kursi. Di atas kertas Koalisi Merah Putih (KMP) akan slalu mendominasi kekuatan produk kebijakan parlemen sangat menguntungkan bagi sebuah oposisi,  sedang Koalisi Indonesia Hebat (KIH) harus ekstra lobi untuk dapat mempertahankan produk kebijakan pemerintah.
KMP pada mulanya akan sesuka hati jika menghendaki tujuan karena parlemen telah dikuasai penuh dengan 62, 85 % terbukti ketika pemilihan pimpinan DPR/MPR KMP menguasai sepenuhnya. Sedang KIH walaupun dengan dlobi yang maksimal tak dapat meraih kursi pimpinan lembaga itu. Akhirnya pada tahap pemilihan pimpinan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) KIH terpaksa harus membuar DPR tandingan yang akhirnya membuahkan bagi-bagi kursi AKD.
Dinamika politik berkembang , mula melanda PPP yang terbelah dengan dua munas yang berbeda sehingga terbelah pula penggabungannya ke koalisi KMP dan KIH. Kemudian P Golkar terbelah pula juga dengan dua munas yang berbeda. Keadaan ini akan membuat peta kekuatan koalisi di Parlemen berubah. Jika separuh PPP meninggalkan KMP dan masuk KIH maka kursi KIH diparlemen bertambah 20 sehingga KIH memiliki 208 kursi ditambah 20 menjadi 228, Kemudian P golkar yang terbelah dari hasil munas jakarta telah terang-terangan masuk KIH, namun jumlah kursi P Golkar di parlemen yang masuk KIH belum diketahui. Anggaplah KMP kehilangan separuh dari jumlah kursi anggota koalisinya (P Golkar) yang memiliki 91 suara.
Hal yang mengagetkan tiba-tiba P Demokrat (PD) menyatakan keluar dari KMP dan memilih ‘non blok’ dari dua koalisi yang ada. Maka kejadian ini samna saja dengan KMP kehilangan 61 suara PD. Jika dihitung KMP yang semula memiliki  mayoritas suara di DPR sebanyak  352 telah dikurangi 20 daro PPP dan 61 dari PD sehingga memiliki 271 suara sehingga menjadi 48, 39 % suara di DPR.  Ini belum lagi perkembangan P Golkar yang kini masih berebut legetimasi anatara 2 kubu hasil munas Bali dan Jakarta. Kepengurusan Kubu Agung Laksono dari hasil Munas Jakarta telah menyatakan keluar dari KMP dan bergabung di KIH namun ini masih belum bisa dihitung suaranya.
Seandainya koalisi yang merupakan gabungan partai  oposisi memiliki suara yang kurang maka sama nilainya dengan PD  yang menjadi oposisi dan menyatakan non blok. berbuat sendiri akan lebih baik ketimbang bergabung dengan banyak partai juga tak memberikan hasIL.
Akhirnya apalah artinya koalisi dipertahankan jika tak menemukan keberhasilan tujuan. KMP dan KIH sama -sama tidak menguasai kursi di parlemen.  Koalisi demikian hanya membuang energi dan akan lebih baik memfokuskan pada kepentingan rakyat. Demokrat dengan statement SBY yang menyatakan non blok itu padai mengambil simpati rakyat. Jika demikian untuk apa dipertahankan koalisi yang slalu kalah lebih baik ubar.
Rg Bagus Warsono 10-12-2014