Sabtu, 12 November 2016

Jangan Percaya Lembaga Survai



Jangan Percaya Lembaga Survai
Hasil survai atas pasangan calon gubernur oleh lembaga survai itu bisa dilakukan oleh 10 orang operator tanpa jajak pendapat kepada responden. Lembaga survai sebetulnya membohongi konsumen pemesan keingintahuan elektabiltas. Mereka bisa mengatakan telah mewawancarai 1000 atau 5000 responden tapi tidak bisa menunjukan daftar nama responden di berbagai tempat itu. Jadi pendek kata jangan percaya pada lembaga survai.
Lembaga survai sebetulnya hanya mengambil sampel. Mereka akan mempertanggungjawabkan pada pemesan dengan sampel yang dipilih. Biasanya lebih memberikan pelayanan agar pemesan survai merasa senang. Karena itu sampel yang dipilih yang dapat memberikan kegembiraan pemesan.
Jika lembaga survai mengatakan 'margin of error hanya 4 % , misalnya, itu sebetulnya hanya pada satu sampel survai dan mereka bertangung jawab atas survai itu dan biasanya akurat, tetapi wilyah hak pilih begitu luas, sehingga perlu beberapa sampel diambil dan memakan waktu lama. Lembaga survai maunya cepat memberikan layanan. Dan tentu saja mendapat untung besar.
Lembaga survai memiliki tenaga ahli survai sekaligus IT dan juga tentu saja sekaligus ahli rekayasa pengujian sampel. Mereka adalah orang-orang yang jeli dan memahami gejala perubahan publik. Namun demikian survai adalah survai yang slalu memiliki margin of error. Tetapi kenapa banyak yang memesan? Jawabnya adalah kebutuhan politik dan sebagai tolok ukur kerja tim sukses masing-masing pasangan calon.
Lembaga survai kemudian mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan (mempromosikan) hasil survai. Dalam konteks pilkada bisanya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat hak pilih. Wartawan yang diundang diharapkan dapat mempublikasikan hasil survai dan masyarakat dapat mengetahui elektabilitas calon pujaannya.
Ada yang tidak dapat terditeksi oleh lembaga survai atas nilai kesukaan seseorang pada sosok pilihannya (dalah hal ini calon gubernur, misalnya), yaitu kepentingan pribadi dan kebutuhan perut. Seseorang akan mengesampingkan penilaian visi-misi, atau program calon yang bagus, apabila kepentingan pribadi atau kepentingan perut lebih dominan. (rg bagus warsono 12-11-16)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar